Kenapa kita membeli Hp yang jauh lebih mahal dari keperluan kita ?
Kenapa harus beli mobil yg mahal sekali yg jauh daripada kebutuhan kita ?
Kenapa kita sering tak mau mengalah dan terlibat dalam perdebatan dengan orang lain ?
Kenapa banyak orang berkelahi bahkan sampai membunuh hanya karena tersinggung oleh masalah kecil ?
Kenapa Orang banyak berhutang untuk Gaya Hidup yang Maksimal, dengan Pendapatan minimal?
Jawabnya Demi gengsi…satu kata yang cukup membuat harga diri kita terusik.. kita gengsi kalo tak punya baju bagus..mobil mewah..rumah bagus, HP terbaru, Atau Gadget Mutakhir.. bahkan kita gengsi untuk meminta maaf meskipun kita tau kita salah ato karena usia kita lebih tua. Manusia ingin dihargai, ini bagus. Sayangnya kita sering kebablasan, kita haus akan kebanggaan diri yg tidak ada habis2nya. Diri kita ingin selalu menang dari orang lain, ingin selalu dihormati, ingin dilayani. Kita mati2an melindungi diri kita agar tidak disinggung orang, agar tidak direndahkan atau dihina. Maka seumur hidup kita sibuk melindungi harga diri kita.Kenapa orang bangga kalau punya barang mewah? Kenapa orang malu kalau tak punya? Hanya karena orang ingin merasa diri lebih baik daripada orang lain. Padahal kita pasti nggak lebih baik karena kaya.
Gengsi adalah ‘kehormatan dan pengaruh yang diperoleh karena perbuatan besar’. Ingat karena sebuah perbuatan besar. bukan barang/kepemilikan yang besar “besar”. Saat ini Kelihatannya memang masyarakat kita semakin materialistis, orang dipuji karena kekayaan materi. Kalau kaya Bangga Kalau miskin Malu dan terhina. Maka orang berebut menjadi kaya atau disebut kaya dengan jalan apapun, entah itu menipu, mencuri, korupsi atau apapun, yg penting kaya dan menjadi orang terpandang. itulah efek negatif dari sebuah gengsi.
Banyak orang salah kaprah Gengsi diawali dari kebanggaan yang berlebihan atas apa yang dimilikinya dan dirasa sempurna daripada orang lain. Sehingga dapat memperkecil kepekaan sosial. Ia bisa saja menganggap semua urusan diluar dirinya bukan urusannya. Terutama pada kaum yang lebih rendah dibawahnya.. Seandainya gengsi atau malu bisa dihilangkan asalkan pekerjaan tersebut halal dan tidak melanggar hukum saya kira pengangguran bisa ditekan. Masih banyak disekeliling kita bahwa setelah selesai sekolah atau kuliah ada bekerja di tempat yang sesuai jurusannya, atau dengan kata lain menjadi karyawan disebuah perusahaan atau pegawai negeri. Harus diakui Gengsi itu memberi rasa nikmat pada ego kita. Banyak orang yang karena memakan Gengsi hidup dalam sebuah dilema, Gonta-ganti HP, punya barang bagus, tetapi Ujung-ujungnya Hutang Yang besar dan menggunung serta dikejar-kejar oleh Debt Kolektot, Malu engga sih.
Starbuck di negara asalnya, adalah kedai kopi yang menawarkan suasana. Jadi, para peminum bisa menikmati kenyamanan saat duduk dan bukan hanya sekedar rasa kopinya. Di Indonesia, sebagian dari benefit ini mulai bergeser. Ini terjadi, karena sebagian konsumen yang pergi ke kedai kopi ini memang hanya ingin mengejar status belaka. Demikian juga, banyak kafe-kafe yang berkelas, sengaja membiarkan kafenya terbuka dan mudah dilihat orang. Karena gengsi, maka banyak konsumen yang tertarik dan mereka sudah mendapatkan kepuasannya bila status mereka terangkat saat memasuki kafe-kafe yang mahal ini. Padahal, mereka bisa mendapatkan dengan harga yang jauh lebih murah dan dengan rasa yang tidak kalah. Mereka membeli gengsi, bukan membeli makanan dan minumannya.
Mengapa terkadang memilih membeli jas-jas buatan desainer dunia yang namanya kondang setinggi langit Bukan karena ukurannya yang mungil, bukan juga karena potongannya yang lebih ramping. Label yang dijahitkan di jas itu membuat kita turut melambung bersama, dan secara tak langsung diasosiasikan dengan sesuatu yang mahal. Mengapa kita sering meminta menulis nama dan gelarnya selengkap mungkin. Prof Dr XXX, Eng, MM, Msi. Orang yang memilih gengsi sebenarnya tak punya apa-apa yang patut dibanggakan. Maksudnya, perbuatan besar. Karena itu, untuk memperoleh rasa hormat secara mudah dan instan kita melakukan semua kegiatan “besar” itu.
Apa yang menyebabkan gengsi ini? Pertama sudah pasti karena budaya dan norma kita. Paling tidak ada ketiga budaya dan norma yang membuat gengsi ini menjadi kebutuhan yang cepat terjadi. Pertama, konsumen Indonesia menyukai untuk sosialisasi. Ini kemudian mendorong seseorang untuk pamer atau tergoda untuk saling pamer. Kedua, kita masih menganut budaya feodal. Inilah yang menciptakan kelas-kelas sosial. Akhirnya, terjadi pemberontakan untuk cepat pindah kelas. Walau belum sesungguhnya pindah kelas, tetapi bisa dimulai dengan pamer terlebih dahulu. Ketiga, masyarakat kita mengukur kesuksesan adalah dengan materi dan jabatan. Akhirnya, banyak di antara kita ingin menunjukkan kesuksesan dengan cara memperlihatkan banyaknya materi yang dimiliki.
Cobalah merenung apa sih berfikir apalah gunanya dihargai orang hanya dengan menunjukkan hal semacam itu. Saya lebih bangga jika saya bisa banyak membantu orang tapi orang itu tidak tahu, dibanding berbuat sedikit tapi dibesar-besarkan, hal itu hanya memperlihatkan ketiadaan saja, hanya menghasilkan kesombongan diri, tida perlu gengsi. orang yang mengejar gengsi itu sebenarnya sedang kehausan untuk dihargai? Karena bisa jadi, penghargaan yang datang dari diri sendiri tidaklah mencukupi untuk memuaskan batin. Saya dan teman saya masih perlu mencari dan mendapatkan tambahan dosis pengakuan dari luar. Penghormatan dari luar untuk perilaku yang tidak bermanfaat, apalah gunanya?
Penyakit hati ini memang tidak mudah untuk ditindas. Gengsi akan terus ada selama kita tidak menyadarkan diri sendiri dengan observasi bahwa manusia itu sama. Diciptakan dengan kulit yang bersih dan sewaktu-waktu bisa kotor oleh tanah, juga diciptakan dengan rasa malu. Jadi tak ada alasan buat kita untuk gengsi melakukan hal yang baik meskipun banyak yang berada di luar kebiasaan manusia. Pendorong dari gengsi adalah gencarnya iklan dan promosi yang menempatkan gengsi sebagai bagian utama. Akibatnya, masyarakat yang sudah memiliki potensi untuk mementingkan gengsi.Sering dengar padi yang makin berisi itu seharusnya makin merunduk. Tetapi, isi padi masyrakat yang terlalu mementingkan gengsi cuma seringan kapas. Jadi Masihkan Perlu Gengsi dalam Hidup.. Coba tanyakan Ke Hati Dan Akal anda.
Apa sih yang dimaksud dengan bahagia itu? Bahagia adalah pada saat apa yang kita impi-impikan atau apa yang kita cita-citakan dapat kita mencapainya dan mendapatkannya dalam keadaan sadar dan nyata.
Yang namanya BAHAGIA, Pada saat kita mendapatkan apa yang kita inginkan, maka kebahagiaan dan suka cita akan datang dalam hidup kita. Tapi setelah kebahagiaan dapat tercapai, dan kita rasakan, maka selanjutnya, kita dihadapkan kepada situasi dan kondisi yang tidak bahagia lagi, muncul beban berat dalam kehidupan untuk memaksa kita menuntas problem berat tersebut, jika kita bisa menuntaskannya maka kita akan mendapatkan kebahagiaan itu kembali…….Demikian seterusnya. Kebahagiaan datang, kebahagiaan pergi. Kebahagiaan itu seperti sayap. Nggak bisa lama-lama bertahan. Setelah itu kebahagiaan akan pergi lagi dan kita dihadapkan pada kenyataan yang nggak membahagiakan.Contoh: pada waktu kita bisa tamat SMA, wow sangat bahagia dan suka cita. Terbayang dalam pikiran kita, wah betapa kerennya bisa kuliah dan menyandang predikat Mahasiswa. Wow keren. Mahasiswa bung. Kita mulai sibuk daftar dan mancari Universitas mana, begitu diterima, eng ing eng, predikat sebagai mahasiswa sudah berada di depan mata. Kita bahagia sekali. Kita lagaknya sudah bagaikan Profesor hebat, kuliah pakai buku diktat tebal-tebal.
Setelah menjalankan perkuliahan sebagai mahasiswa, cepat atau lambat, mulai timbul ketegangan dan kecemasan. Wah rupanya nggak enak yach jadi mahasiswa, beban SKS yang berat dan dosennya yang pelit nilai, membuat kita semua jadi was-was, apa bisa selesai S1 tepat waktu??. Mulailah kebahagiaan lenyap ditelan bumi. Mulai ada ketakutan, gimana bisa nggak selesai S1? Apalagi kita mendengar kabar teman sekampung udah sarjana S1 tepat waktu, sedangkan kita belum juga selesai, ketakutan akan problem perkuliahan yang berat mulai membuat kita nggak bahagia. Kita mulai berpikir, seandainya saya bisa menjadi sarjana, betapa bahagianya. Sarjana bung? Keren khan……….
Setelah berjuang begitu luar biasa, akhirnya tercapai juga menjadi sarjana S1. Ada rasa bahagia. Tapi rasa bahagia tersebut, nggak bertahan lama, setelah itu muncul lagi yang namanya tidak bahagia. Mulai gelisah, kapan dapat pekerjaan? Di zaman sekarang yang penuh persaingan, sangat sulit untuk bisa mendapat pekerjaan karena sarjana tersebut harus bersaing dengan ribuan sarjana yang juga bekerja keras untuk bisa tembus mendapat pekerjaan. Setelah melamar sana-sini yang sudah menghabiskan uang perangko dan uang beli kertas dan amplop surat, akhirnya kita dites untuk bisa diterima sebagai karyawan baru. Mulailah tidak bahagia. Sangat kuatir, bisa nggak dapat pekerjaan? Sangat gelisah. Ternyata akhirnya kita berhasil juga dapat pekerjaan di sebuah perusahaan bergengsi Aduh bahagianya dan sangat bersuka cita. Gaji pertama, ajak papa mama dan adik adik makan enak-enak di restoran. Sangat bahagia sekali dan menjadi kenangan indah.
Setelah bekerja sekian tahun, mulai gelisah dan nggak bahagia lagi, mulai bingung dan sangat tidak nyaman, kok gaji saya nggak naik-naik? Padahal kita udah kerja jujur dan memberikan masukan-masukan yang berharga untuk Bos & untuk kemajuan perusahaan, kok bos pura-pura nggak tahu, tentang keadaan kita ??. Apa bos nggak tahu, biaya hidup sekarang udah mahal dan nggak sesuai lagi dengan tingkat gaji sekarang?
Mulai tidak bahagia… mulai pikiran stress muncul. Mulai muncul rasa sentimental, Kapan dapat jodoh? Hahaha, kok teman kita tiap malam minggu pergi ngapel, kok saya ini masih terpaku dengan beberapa media? Wah mulai nggak bahagia. Mulai stress dan mulai betapa hidup ini sangat kesepian jika nggak punya pasangan.
Setelah berjuang sekian tahun, akhirnya Tuhan buka pintu jodoh kita dan kita diizinkan menikah, wow sangat bahagia sekali, apalagi suasana bulan madu ke Pulau Bali atau ke luar negeri yang begitu menyenangkan. Malam pertama di lewati dalam suasana yang begitu romantis, sangat bahagia sekali dan menjadi kenangan yang tidak terlupakan. Setelah menikah sekian tahun, mulai muncul persoalan lagi, kok belum punya anak, wah teman yang lain anaknya udah besar, kok saya belum? Mulai tidak bahagia dan mulai stress dan seterusnya dan seterusnya… kebahagiaan datang, tapi kebahagiaan datang nggak bertahan lama, secepat kilat, kebahagiaan seperti punya sayap terbang jauh.
Jadi apa definisi arti bahagia? Definisi arti bahagia adalah pada saat kita mendapatkan atau mencapainya, dan itu dikatakan sebagai sukses, maka kita akan merasa bahagia sekali. Setelah kita mencapai dan mendapatkan sukses yang mendatangkan kebahagiaan maka timbul rasa nggak bahagia lagi. Kita jadi nggak merasa puas. Karena problem berat mulai muncul, pengen punya mobil, pengen punya rumah, pengen bisnis sukses. Pengen naik jabatan, pengen punya anak cerdas dan pintar, pengen punya tabungan deposito, pengen punya apa saja . Itu semua kalau nggak bisa tercapai dalam hidup ini, akan merampas kebahagiaan kita.
Dengan datangnya kebahagiaan, itu artinya kesuksesan datang, yang akan membuat kita merasa bahagia. Jadi dalam hidup ini, kita nggak ada puasnya. Kita akan terus dihadapkan pada persoalan-persoalan hidup yang datang silih berganti. Itulah hidup di dunia yang fana serba menderita. Manusia selalu dituntut untuk tuntaskan problemnya. Jika kita bisa tuntaskan persoalan menjadi selesai, maka bahagia pasti datang.
Jadi kesimpulannya, Tuntaskan semua persoalan hidup maka itu namanya Sukses tercapai, barulah kebahagiaan muncul dan membuat hati kita berbunga-bunga. Kita pandang sekeliling kita rasanya seperti rumput yang sangat hijau sekali, sangat bergairah dan bahagia sekali.
Rahasia kehidupan sukses yang bahagia adalah mengerjakan apa yang harus dikerjakan saat ini dan tidak khawatir akan masa lalu dan masa datang.
Kita tidak dapat mengubah masa lalu dan kita tidak dapat menebak masa yang akan datang.
Akan tetapi ada suatu masa dimana kita mempunyai kekuasaan di atasnya dan itu adalah saat ini.
Banyak orang yang hanya khawatir akan masa depannya, mereka harus belajar untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Khayalan apapun yang mereka bayangkan, impian apa pun yang mereka punyai, mereka harus selalu ingat bahwa mereka hidup di dunia yang penuh dengan keretakan dan perubahan.
Mau makan di restoran enak ? Takut harga kemahalan?
Mau Nongkrong di tempat elite ? taku gak sebanding dengan anak-anak disana…
Mau jalan-jalan keluar negeri ? pake uang lagi
Kalo sakit ke dokter ?
Satu kata “UANG”
Secara tidak langsung kebanyakan orang diperbudak oleh uang. Membanting tulang hanya dibayar dengan upah rendah. TIdak kerja maka dibayar alias tidak dapat uang. Beli makan, minum, baju, tas dan banyak kebutuhan lainnya memerlukan uang, masalah perselingkuhan, ekonomi keluarga semua hancur dan harmonis karena uang, bahkan kriminalitas pencurian, perampokan, pembunuhan, harga diri juga gara-gara uang.
Sedih sekali melihat teman yang menjual harga diri hanya untuk uang, melakukan itu seperti hal biasa baginya. yang penting dapat uang. Peduli apa dengan kamu? Tau apa dengan perasaanku? dan penderitaanku! pemikiran yang terlalu gampang untuk mencari uang gratis.
Seberapa besar peran uang dikehidupan kita?
Coba lihat uang adalah benda mati, tidak mempunyai pikiran, tidak mempunyai logika, tidak mempunyai perasaan dan tidak dapat berbicara. Mengapa semua takluk, tunduk bahkan ada yang menyembah uang dan menganggap uang adalah segala-galanya. Begitu hebat peran uang di kehidupan kita. Tanpa uang manusia adalah NOTHING. Bahkan uang dapat membuat orang lupa daratan, lupa ingatan, dan jadi lupa diri.
Banyak pepatah yang menyatakan ” TIme Is MOney” yang artinya waktu adalah uang.
Apakah kita bisa hidup tanpa uang?
Apakah orang yang punya banyak uang bisa menjadi dewa?
Apakah uang adalah segalanya?
U A N G M U S T A T U S M U
“ih, ngapain sih lu deket-deket gw?! Jauh-jauh sana!”
“Oii ! santai aja kaleeee, udah napas bau pete’, ga usah pake sipe’ !”.
Mungkin dialog sejenis itu sudah sering kita dengar di percakapan sehari-hari. Dialog di saat sensitif, atau sekarang sering diplesetkan menjadi sensipe’, sensi, atau yang lebih singkatnya lagi adalah sipe’, seringkali membuahkan kalimat-kalimat garang nan menusuk hati, membuat sakit hati, bahkan meninggalkan dendam di hati. Beberapa kasus, bahkan berakhir dengan tidak enak hati, malahan ada yang sampai mati. Nah lho, makanya hati-hati….
Lidah memang tak bertulang. Terkadang kita bicara seenaknya, berargumen sekenanya, lalu berakting semaunya. Terkadang suatu masalah kecil malah dibesar-besarkan, hingga mengakibatkan reaksi yang berlebihan. Terkadang juga masalah mudah sengaja dipersulit, padahal kita diajarkan suatu doa, Allahumma yassirna wa laa tuassirna, Ya Allah, permudah, jangan persulit.
Kalau kita masih sering reaktif di saat sensitif, mungkin kita harus berkaca pada kisah Nabi kita, Muhammad SAW, saat menghadapi sang istri tercinta yang sedang cemburu. Bayangkan, betapa malu seorang suami, ketika hendak menjamu tamu, tiba-tiba sang istri terbakar api cemburu karena masakan yang akan dihidangkan bukanlah masakannya. Lalu dibantinglah makanan yang akan dihidangkan itu oleh sang istri.
( >>>> ………. Diam sejenak,,,, bayangkan apa yang akan anda lakukan jika Anda seorang suami, dan mengalami hal seperti itu? Apakah akan ada susulan piring terbang-piring terbang yang lain? ^_^
Ok, udah cukup ngebayanginnya, kita lanjut lagi ya <<<< )
Rasulullah memang beda, pancaran kasih sayang tampak jelas di raut wajah mulianya, kedewasaan senantiasa menyertai tindak tanduknya, maka kisah tersebut ditutup dengan kalimat sederhana penuh pemakluman, “sesungguhnya ibu kalian sedang cemburu…”. Ya, dengan kalimat sesederhana itu, beliau menjelaskan kepada para tamunya tentang sikap cemburu ibu para mukminin itu.
Jangan salahkan siapa-siapa jika Anda bersikap reaktif, lalu menyesal ketika Anda sadar bahwa Anda telah salah langkah. Jangan seperti Jenghis Khan, panglima perang terkenal dari Mongolia, yang dalam setiap pertempuran senantiasa membawa hewan peliharaannya, seekor rajawali.
Di akhir sebuah pertempuran, Jenghis Khan pun memutuskan untuk beristirahat di sebuah tepian air terjun. Tak lama kemudian, haus datang melanda, Sang panglima pun memutuskan untuk mengambil minum dari tepian air terjun di dekatnya. Ketika mau mengambil air, tiba-tiba rajawali peliharaannya menyambar tempat minum sang panglima, terpentallah tempat minum tersebut. Kejadian tersebut terus berulang hingga tiga kali.
( >>>> ……. Diam sejenak,,,,Anda ingin membayangkan kisah tersebut ?
Oh tidak, saya tidak meminta anda untuk membayangkan kisah tersebut, karena akan aneh rasanya jika anda membayangkan kuliah atau sekolah sambil membawa seekor rajawali. Saya hanya ingin Anda istirahat sejenak. Ok, sudah siap? Yuk mulai lagi ^_^ <<<<)
Sang panglima pun murka, jiwa raganya dipenuhi emosi yang membuncah, diambilnya pedang perangnya, lalu ditebaskannya ke rajawalinya. Tragis. Kepala terpisah dari badannya, begitulah akhir hidup si rajawali. Rajawali pun mati di tangan sang tuan.
Jenghis Khan beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut, menuju ke mata air. Ketika sampai di mata air, ia menemukan bangkai hewan yang telah membusuk, menjijikkan. Dengan serta merta, sadarlah ia bahwa pada saat menyambar tempat minumnya, sebenarnya rajawali peliharaannya itu sedang memberitahukan bahwa air di tempat tersebut telah tercemar oleh bangkai. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Berkabung, sedih, dan menyesal, mungkin itulah yang dirasakan oleh Jenghis Khan, rajawali setianya, kini telah mati di tangannya sendiri.
Ok, guys… jangan terpancing oleh perasaan sensitif yang negatif. Bagaimanapun kondisi Anda, berusahalah untuk senantiasa menghadirkan sikap positif. Se-jutek dan se-sensi apapun Anda, mulai saat ini, berubahlah! Tebarkan nilai-nilai positif di muka bumi. Salam ^_^
Jangan hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam. Selamatkan diri anda dari bayangan masa lalu!
Apakah anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu , matahari ke tempatnya terbit , seorok bayi ke perut ibunya, air susu ke payudara sang ibu, dan air mata ke dalam kelopak mata ?
Ingatlah , keterikatan anda dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yng telah terjadi pada masa lalu, adalah kondisi yang sangat naif, memprihatinkan dan menakutkan.
Membaca kembali lembaran pahit masa lalu, hanya akan memupuskan masa depan, mengendurkan semangat dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga
Adalah bencana besar, manakala kita rela mengabaikan masa depan dan justru hanya disibukkan dengan memikirkan masa lalu. Itu sama halnya dengan mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puing-puing yang telah lapuk.
Padahal betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu,niscaya mereka tidak akan mampu. Sebab yang demikian itu sudah mustahil pada asalnya.
Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melihat sedikitpun ke belakang. Pasalnya , angin akan selalu berhembus ke depan, air akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan bergerak ke depan, dan segala sesuatu bergerak maju ke depan. Maka dari itu , janganlah melawan sunnah kehidupan.
Kenapa harus begini dan kenapa harus begitu?. Semua tergantung dari pemikiran atau keinginan kita terhadap apa yang terjadi. Pola pikir kita adalah sebuah magnet yang akan menarik keadaan sekitar sehingga terjadi pada diri kita. Jika pikiran kita sifatnya positif maka hasil yang kita dapat akan positif. Tapi bila pikiran kita selalu negatif, penuh kearaguan, dan takut maka tentunya hasilnya akan negatif. Jadi jangan pernah menyalahkan keadaan. Semua tergantung dari kita.
Setiap manusia di dunia ini terlahir dengan dilengkapi emosi: senang, benci, marah, kecewa, dan rasa takut. Setiap emosi yang kita rasakan membawa pengaruh pada tingkah laku kita. Kali ini kita akan membicarakan soal rasa takut. Emosi yang satu ini memiliki potensi merusak dari apapun di planet ini. Siapa sih manusia di dunia ini yang tidak mengenal rasa takut? Bahkan seorang pemberani pun masih dihinggapi rasa takut. Sayangnya, perasaan yang paling wajar ini memiliki kemampuan merusak potensi alami yang dimiliki bagi semua orang. Pada dasarnya setiap dari kita memiliki kemampuan untuk mewujudkan hal-hal yang luar biasa. Kehidupan yang kita impikan tersedia di luar sana untuk diraih.
Masalahnya, kadang rasa takut yang menjelma dalam berbagi bentuk itu mengacaukan setiap kesempatan yang dapat kita raih. Kita tak bisa menghilangkan perasaan takut itu dari kehidupan kita. Tapi ada cara yang dapat kita tempuh untuk mengalahkannya. Mari kita kita lihat, apa yang dapat kita lakukan untuk mengusir rasa takut itu jauh-jauh.
- Masalah terbesar dari rasa takut adalah keberadaannya yang tidak nyata. Perasaan itu timbul dari kepala kita. Pikiran kita menghadirkannya untuk memberi perlindungan dari situasi yang kita yakini akan menyebabkan rasa sakit. Rasa takut yang berdiam dalam pikiran membuat kita berlari dari situasi yang sebenarnya bisa membawa kesempatan bagus.
- Satu-satunya alat yang paling manjur menghalau rasa takut adalah berada di saat ini. Maksudnya, fokus pada apa yang ada di hadapan Anda. Rasa takut itu datang saat Anda membayangkan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Sayangnya, karena pengalaman-pengalaman yang kita lalui selama bertahun-tahun dalam kehidupan kita, proyeksi kita cenderung terfokus pada hal yang negatif. Jadi, saat kita melihat situasi yang sedang kita hadapi, yang nampak adalah bayangan ini tak akan membawa kepuasan. Rasa takut itu memang selalu berdiam dalam diri kita. Jika ingin mengalahkannya, Anda harus mengalahkan pemikiran negatif yang menyertainya. Tetapi pertama-tama, sadari bagaimana sesuatu yang sebenarnya tak ada ini menguasai ruang pikir kita. Ingat, rasa takut itu hanya pikiran kita sendiri.
- Coba hitung, berapa banyak dari kekhawatiran Anda yang jadi nyata. Jika mau menelaahnya, kebanyakan dari ketakutan yang kita bayangkan tak pernah benar-benar terjadi. Ketakutan itu berhasil menghancurkan kesempatan dan kehidupan kita hanya karena kita memberinya ijin untuk itu. Betapa menakjubkannya kekuatan pikiran bukan? Tetapi, rasa takut juga bisa jadi senjata yang penuh kekuatan untuk mendorong seseorang melakukan tindakan.
- Menyadari bahwa apa yang paling kita takutkan tak selamanya berubah nyata adalah cara lain mengatasi ketakutan. Seorang yang berpikiran rasional tak akan mengambil tindakan dari sesuatu yang dia tahu tidak nyata. Menyadari rasa takut itu hanya khayalan, membuat kita lebih mudah mengabaikan apa yang dibisikannya. Abaikan bisikan si setan kecil ini, karena kebanyakan dari itu tidak nyata.
- Kesuksesan adalah hasil dari keterlibatan.Tak seorang pun bisa meraih kemenangan hanya dengan berdiri di tepi arena. Rasa takut akan penolakan, perselisihan dan kehilangan menghalangi kita mencoba hal-hal baru. Dalam hidup ini akan selalu ada resiko kegagalan. Orang-orang sukses memahami ini dan memilih untuk bertindak dengan memperkecil resiko, dan mengambil tindakan sesuai dengan pikiran positif. Mengatasi rasa takut membuat pikiran kita melihat kesempatan.
Pepatah bijak bilang: keberanian itu bukannya tak punya rasa takut tetapi mengalahkan rasa takut. Ingat pepatah ini saat rasa takut datang memberi bisikan. Semua orang pasti memiliki rasa takut, hanya dengan menyadari bahwa ketakutan kita tak selamanya jadi kenyataan dan melakukan tindakan yang kita anggap benar, maka alam akan memberikan imbalan termanisnya.
Silence, like a whisper
Maybe tomorrow it won’t be here
So tomorrow we could teach them
Some new styles
You’re such a killer
So shoot me down again
It won’t hurt when the killing is done by a friend
Silence, like a whisper
So this is all we need
The fully air conditioned sound of speed
A violent whisper
And this time it’s for real
So this day I made plans for us to leave
Silence, why won’t you listen
Maybe it’s just me
but sometimes it’s impossible to breathe
A violent whisper
Maybe this time it won’t heal
Maybe this time it will bleed until I’m free
Dulu kita sahabat
Teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari
Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat, berharap jadi kupu-kupu
Kini kita berjalan berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin kuterlalu bertingkah kejauhan
Namun itu karena kusayang
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman Hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
na..na..na..na..na..na